Situs Judi Resmi 1 User ID Untuk Semua Game: Live Casino, Bola, Poker & Slots
You are here:  / Gaya Hidup / Masgouf, Sajian Andalan Restoran Trump Fish di Irak

Masgouf, Sajian Andalan Restoran Trump Fish di Irak

Jakarta, CNN Indonesia — Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, bukan hanya magnet pemberitaan, namun juga inspirasi bisnis. Sebagaimana usaha yang dibangun di sudut kota di Irak. Bukan hotel, apalagi lapangan golf, melainkan restoran ikan.

Bernama Trump Fish, restoran milik Nedyar Zawity ini berlokasi di Duhok—satu jam dari Mosul, lokasi pertempuran ISIS. Reuters mengabarkan, restoran berlogo karikatur wajah Trump ini baru diresmikan pada awal Desember 2016.

Sang pengusaha berusia 31 tahun mengaku tidak berniat nyemplung politik. Ia hanya tertarik karakter kuat Trump dan reputasinya sebagai pebisnis. Ia pun mendaftarkan nama restoran ikan masnya ke pemerintah setempat.

Nedyar Zawity, pemilik Trump Fish, memang mengagumi sosok Donald Trump. Trump Fish, restoran milik Nedyar Zawity, hanya menawarkan satu jenis makanan, masgouf, semacam ikan panggang dari sungai yang dibumbui minyak zaitun, lada, lemon, dan rempah. Makanan ini lazim ditemukan di Irak. (REUTERS/Ari Jalal)

Zamity tak memungkiri, dirinya memang mengagumi sosok Trump. Ia terkesan pada janji Trump saat berkampanye: memberikan dukungan terhadap suku Kurdi dan pejuang Peshmerga, yang bertolak belakang dengan keinginan banyak kalangan di negara-negara Barat.

“Saya pribadi suka Trump karena itu,” kata Zawity. “Nama Trump dicintai di Kurdistan.”

Kenyataannya, sebagaimana dituturkan sejarah, suku Kurdi tercatat mengalami penindasan selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan Arab.

Dan ketika Amerika Serikat menginvasi Irak pada 2003, suku Kurdi menyambut terbuka, dan kejatuhan rezim Saddam Hussein dianggap sebagai kemenangan baru bagi suku ini.

Pada saat suku Arab Irak di bagian selatan negara itu mengalami konflik sekte selama lebih dari satu dekade, suku Kurdi justru tengah menikmati suasana tenang serta menikmati pertumbuhan ekonomi dan stabilitas dalam otonomi baru mereka.

Trump kini menjadi idola baru bagi suku Kurdi lantaran dalam kampanyenya, beberapa bulan lalu, memuji bakat dan loyalitas prajurit Peshmerga Kurdi dalam melawan ISIS.

“Saya penggemar berat pasukan Kurdi,” kata Trump, pada Juli lalu.

Mengundang Pelanggan

Keputusan Zawity memilih Trump menjadi nama restoran barunya bisa jadi hal yang tepat. Menurut Zawity, ‘Trump Factor’ mengundang banyak pelanggan, termasuk orang Barat yang bermukim di kota itu.

Menurut Zawity, kedatangan tamu Barat ke restoran tersebut bukan karena mendukung sang pion Partai Republik. Lebih tepatnya, karena restoran yang dijalankan Zawity bersama tiga saudaranya menyuguhkan suasana baru.

“Trump adalah orang Amerika, mungkin ia bukan favorit saya, namun ia tetap orang Amerika. Jadi saya senang mencoba restoran dengan nama orang Amerika, tapi menyuguhkan makanan Kurdi Irak,” kata David Hirsch, pustakawan University of California, Los Angeles.

Restoran Zawity hanya menawarkan satu jenis makanan, masgouf. Ini semacam ikan panggang dari sungai setempat yang dibumbui minyak zaitun, lada, lemon, dan rempah. Makanan ini lazim ditemukan di Irak.

Namun bukan cuma kebanjiran pelanggan yang mencari masakan ikan mas yang dijual US$10 per kilogram, Zawity juga mendapatkan kecaman dari sebagian pihak gara-gara nama Trump.

Beberapa pelanggan mengaku kesal dengan rencana kebijakan Trump melarang Muslim datang ke Amerika Serikat dan berencana memboikot restoran Muslim.

Tapi Zawity meyakini bahwa rencana tersebut hanya bumbu kampanye Trump untuk menang suara pemilu AS dan Zawity tidak yakin akan benar-benar diterapkan.

Zawity justru ingin membawa karikatur Trump dan membuka sebuah restoran di Negeri Paman Sam. Bahkan, ia sangat percaya diri dengan rencananya itu.

“Beri saya visa dan saya akan pergi besok,” Zawity menantang sembari tertawa.

[Gambas:Video CNN]

(vga/vga)